Manfaat pada semua
Friday, April 17, 2009
Manfaat Pada Semua
Oleh: Ahmad Suprapto
Dalam sebuah hadist sahih yang diriwayatkan oleh Bazzar, Rasulullah S.A.W bersabda:
"Perumpamaan orang mukmin itu adalah seperti pohon kurma, semua apa yang ada padanya dapat dimanfaatkan."
Hadist ini memberikan satu garis panduan yang amat penting bagi kita umat Islam.yaitu, untuk menjadi mukmin yang sejati, bukan saja kita perlu meningkatkan hubungan kita dengan Allah S.W.T dengan melaksanakan segala apa yang telah diperintahkannya pada kita, malah kita juga perlu memastikan agar kehidupan kita di dunia ini memberi manfaat kepada orang di sekeliling kita.
Rasulullah S.A.W memperumpamakan orang mukmin dengan pohon kurma yang banyak terdapat di tanah Arab. Pohon kurma merupakan sebuah pohon yang memberikan banyak manfaat kepada manusia. Dari buahnya sampai batangnya. Semuanya memberi manfaat kepada manusia.
Buahnya menjadi makanan bagi manusia. Bijinya pula, apabila dihancurkan lumat, bisa digunakan untuk menjadi makanan binatang ternak. Tangkainya pula dijadikan tali oleh manusia pada zaman dahulu.
Daun pohon kurma bukan saja menjadi tempat berteduh manusia dan binatang dari terik matahari, ia juga digunakan oleh manusia untuk membuat bakul dan sebagainya. Tangkai daun juga bisa digunakan dalam perkakas rumah. Sedangkan penghujungnya boleh dijadikan sebagai bahan bakar.
Batang pohon kurma, seperti pohon-pohon lain, digunakan untuk membuat perkakas rumah. Dan cairan yang ada dalam batang tersebut bisa dibuat minuman.
Begitulah manfaatnya pohon kurma kepada manusia. Malah, jika ia mati ditebang oleh manusia pun, dia tetap memberikan manfaat kepada manusia. Penghujung batang pohon kurma amat lembut sehingga bisa dijadikan makanan.
Besar manfaat pohon kurma inilah, yang mendorong Rasulullah S.A.W untuk memperumpamakan orang mukmin seperti pohon kurma. Dalama arti kata lain, kita sebagai orang mukmin, tidak cukup tekun beribadat kepada Allah S.W.T saja. Akan tetapi kita dituntut agar memastikan eksistensi kita di atas muka bumi ini, memberi manfaat pada semua, tidak hanya bangsa dan agama, dan tidak hanya di mana saja kita berada. Inilah mukmin yang sejati.
Rasulullah S.A.W mendidik para sahabat agar memberi manfaat kepada semua. Para sahabat pula mendidik para tabi’in (pengikut sahabat). Dan begitulah seterusnya, dari satu generasi ke generasi yang alin. Sehingga dalam masyarakat kita pun ada pepatah yang menggalakkan kita agar jadi seperti pohon kelapa yang memberi banyak sumbangan serta manfaat kepada manusia.
Pentingnya kehidupan kita ini membawa manfaat kepada semua, sehingga Allah S.W.T telah menekankannya dalam Al-Quran, dalam ayat 17, surah Ar-Ra’ad:
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air dilembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
Dalam ayat tersebut, Allah S.W.T mengingatkan kita bahawa apa saja perbuatan dan sumbangan kita yang membawa manfaat kepada manusia, ia tidak akan hilang begitu saja. Perbuatan dan sumbangan tersebut akan kekal.
Jika kita lihat, masyarakat Islam amat menyanjung sifat memberi manfaat kepada manusia. Lihat saja para ulama dan cendekiawan kita dahulu. Mereka bertungkus-lumus, berusaha mengumpulkan ilmu dan menyumbang terhadap kemakmuran manusia secara umumnya. Sumbangan mereka dihargai oleh manusia sehingga sekarang. Sehingga kemajuan Islam dahulu disanjung sebagai kemajuan yang memacu manusia ke tahap teknologi yang lebih tinggi lagi.
Ibn Sina sebagai contoh, seorang pakar perobatan yang berkontribusi kepada ilmu kedokteran sehingga buku tulisan beliau menjadi bahan rujukan para dokter selama beratus tahun lamanya.
Namun, bagaimanakah kita dapat memenuhi perintah Rasulullah S.A.W agar menjadi seperti pohon kurma, yang memberi manfaat kepada semua?
Dasarnya adalah, senantiasa merasa lapang dada dan bersedia untuk membantu orang lain, tidak melihat usia, bangsa dan agama. Karena semuanya adalah hamba Allah. Setiap dari kita perlu membantu manusia lain mengikuti kemampuan kita.
Jika kita seorang pelajar, kita perlu belajar bersungguh-sungguh kerana dengan ilmu yang dipelajari tersebut akan dapat membantu kita memberi sumbangan yang lebih bermanfaat dan kekal pada manusia secara umum. Begitu juga, kita tidak boleh pelit akan ilmu. Kita perlu kerjasama dengan mereka yang lemah dalam pelajaran. Ketahuilah, ilmu yang dikejakan bersama-sama akan lebih kekal dan diberkati.
Jika kita seorang pekerja, pikirlah cara-cara yang dapat membantu perusahaan kita, institusi kita, dalam mencapai tahap pencapaian yang lebih cemerlang. Pekerja seperti ini akan amat dihargai oleh atasannya.
Jika kita seorang anak, bantulah kedua orang tua kita dalam melaksanakan pekerjaan rumah. Ringankan tangan, dan janganlah malas. Hargailah sumbangan mereka kepada kita sewaktu kita kecil dulu, dengan membantu mereka dari setiap segi. Itulah anak yang soleh, yang akan mencium bau surga.
Jika kita seorang suami, bantulah anak-anak kita dalam menangani masalah kehidupan mereka, baik masalah sosial atau pelajaran. Bantulah juga istri kita dalam tugas mereka di rumah. Ingatlah, bahawa tugas melakukan pekerjaan rumah bukan tugas istri seorang saja. Suami juga perlu lakukan demikian, kerana itulah contoh yang ditunjukkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Baginda tidak menunggu istrinya untuk menjahit bajunya yang robek. Akan tetapi baginda juag melakukannya sendiri.
Dalam setiap segi, dari setiap sudut, renungkanlah dan pikirkanlah. Bagaimana bisa kita menjadi mukmin yang sejati, yang memberi manfaat kepada semua. Insya Allah, dengan niat yang ikhlas, Allah S.W.T akan membantu kita ke arah tersebut.
Oleh: Ahmad Suprapto
Dalam sebuah hadist sahih yang diriwayatkan oleh Bazzar, Rasulullah S.A.W bersabda:
"Perumpamaan orang mukmin itu adalah seperti pohon kurma, semua apa yang ada padanya dapat dimanfaatkan."
Hadist ini memberikan satu garis panduan yang amat penting bagi kita umat Islam.yaitu, untuk menjadi mukmin yang sejati, bukan saja kita perlu meningkatkan hubungan kita dengan Allah S.W.T dengan melaksanakan segala apa yang telah diperintahkannya pada kita, malah kita juga perlu memastikan agar kehidupan kita di dunia ini memberi manfaat kepada orang di sekeliling kita.
Rasulullah S.A.W memperumpamakan orang mukmin dengan pohon kurma yang banyak terdapat di tanah Arab. Pohon kurma merupakan sebuah pohon yang memberikan banyak manfaat kepada manusia. Dari buahnya sampai batangnya. Semuanya memberi manfaat kepada manusia.
Buahnya menjadi makanan bagi manusia. Bijinya pula, apabila dihancurkan lumat, bisa digunakan untuk menjadi makanan binatang ternak. Tangkainya pula dijadikan tali oleh manusia pada zaman dahulu.
Daun pohon kurma bukan saja menjadi tempat berteduh manusia dan binatang dari terik matahari, ia juga digunakan oleh manusia untuk membuat bakul dan sebagainya. Tangkai daun juga bisa digunakan dalam perkakas rumah. Sedangkan penghujungnya boleh dijadikan sebagai bahan bakar.
Batang pohon kurma, seperti pohon-pohon lain, digunakan untuk membuat perkakas rumah. Dan cairan yang ada dalam batang tersebut bisa dibuat minuman.
Begitulah manfaatnya pohon kurma kepada manusia. Malah, jika ia mati ditebang oleh manusia pun, dia tetap memberikan manfaat kepada manusia. Penghujung batang pohon kurma amat lembut sehingga bisa dijadikan makanan.
Besar manfaat pohon kurma inilah, yang mendorong Rasulullah S.A.W untuk memperumpamakan orang mukmin seperti pohon kurma. Dalama arti kata lain, kita sebagai orang mukmin, tidak cukup tekun beribadat kepada Allah S.W.T saja. Akan tetapi kita dituntut agar memastikan eksistensi kita di atas muka bumi ini, memberi manfaat pada semua, tidak hanya bangsa dan agama, dan tidak hanya di mana saja kita berada. Inilah mukmin yang sejati.
Rasulullah S.A.W mendidik para sahabat agar memberi manfaat kepada semua. Para sahabat pula mendidik para tabi’in (pengikut sahabat). Dan begitulah seterusnya, dari satu generasi ke generasi yang alin. Sehingga dalam masyarakat kita pun ada pepatah yang menggalakkan kita agar jadi seperti pohon kelapa yang memberi banyak sumbangan serta manfaat kepada manusia.
Pentingnya kehidupan kita ini membawa manfaat kepada semua, sehingga Allah S.W.T telah menekankannya dalam Al-Quran, dalam ayat 17, surah Ar-Ra’ad:
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air dilembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.
Dalam ayat tersebut, Allah S.W.T mengingatkan kita bahawa apa saja perbuatan dan sumbangan kita yang membawa manfaat kepada manusia, ia tidak akan hilang begitu saja. Perbuatan dan sumbangan tersebut akan kekal.
Jika kita lihat, masyarakat Islam amat menyanjung sifat memberi manfaat kepada manusia. Lihat saja para ulama dan cendekiawan kita dahulu. Mereka bertungkus-lumus, berusaha mengumpulkan ilmu dan menyumbang terhadap kemakmuran manusia secara umumnya. Sumbangan mereka dihargai oleh manusia sehingga sekarang. Sehingga kemajuan Islam dahulu disanjung sebagai kemajuan yang memacu manusia ke tahap teknologi yang lebih tinggi lagi.
Ibn Sina sebagai contoh, seorang pakar perobatan yang berkontribusi kepada ilmu kedokteran sehingga buku tulisan beliau menjadi bahan rujukan para dokter selama beratus tahun lamanya.
Namun, bagaimanakah kita dapat memenuhi perintah Rasulullah S.A.W agar menjadi seperti pohon kurma, yang memberi manfaat kepada semua?
Dasarnya adalah, senantiasa merasa lapang dada dan bersedia untuk membantu orang lain, tidak melihat usia, bangsa dan agama. Karena semuanya adalah hamba Allah. Setiap dari kita perlu membantu manusia lain mengikuti kemampuan kita.
Jika kita seorang pelajar, kita perlu belajar bersungguh-sungguh kerana dengan ilmu yang dipelajari tersebut akan dapat membantu kita memberi sumbangan yang lebih bermanfaat dan kekal pada manusia secara umum. Begitu juga, kita tidak boleh pelit akan ilmu. Kita perlu kerjasama dengan mereka yang lemah dalam pelajaran. Ketahuilah, ilmu yang dikejakan bersama-sama akan lebih kekal dan diberkati.
Jika kita seorang pekerja, pikirlah cara-cara yang dapat membantu perusahaan kita, institusi kita, dalam mencapai tahap pencapaian yang lebih cemerlang. Pekerja seperti ini akan amat dihargai oleh atasannya.
Jika kita seorang anak, bantulah kedua orang tua kita dalam melaksanakan pekerjaan rumah. Ringankan tangan, dan janganlah malas. Hargailah sumbangan mereka kepada kita sewaktu kita kecil dulu, dengan membantu mereka dari setiap segi. Itulah anak yang soleh, yang akan mencium bau surga.
Jika kita seorang suami, bantulah anak-anak kita dalam menangani masalah kehidupan mereka, baik masalah sosial atau pelajaran. Bantulah juga istri kita dalam tugas mereka di rumah. Ingatlah, bahawa tugas melakukan pekerjaan rumah bukan tugas istri seorang saja. Suami juga perlu lakukan demikian, kerana itulah contoh yang ditunjukkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Baginda tidak menunggu istrinya untuk menjahit bajunya yang robek. Akan tetapi baginda juag melakukannya sendiri.
Dalam setiap segi, dari setiap sudut, renungkanlah dan pikirkanlah. Bagaimana bisa kita menjadi mukmin yang sejati, yang memberi manfaat kepada semua. Insya Allah, dengan niat yang ikhlas, Allah S.W.T akan membantu kita ke arah tersebut.



